Sabtu, 23 April 2022

menjadi pemungut pajak

Pada masa Timur Lenk, infrastruktur rusak, sehingga hasil pertanian dan pekerjaan lain sangat menurun. Pajak yang diberikan daerah-daerah tidak memuaskan bagi Timur Lenk. Maka para pejabat pemungut pajak dikumpulkan. Mereka datang dengan membawa buku-buku laporan. Namun Timur Lenk yang marah merobek-robek buku-buku itu satu per satu, dan menyuruh para pejabat yang malang itu memakannya. Kemudian mereka dipecat dan diusir keluar.


Timur Lenk memerintahkan Hoja yang telah dipercayanya untuk menggantikan para pemungut pajak untuk menghitungkan pajak yang lebih besar. Hoja mencoba mengelak, tetapi akhirnya terpaksa ia menggantikan tugas para pemungut pajak. Namun, pajak yang diambil tetap kecil dan tidak memuaskan Timur Lenk. Maka Hoja pun dipanggil.
Ia datang menghadap Timur Lenk dengan membawa roti hangat.
“Kau hendak menyuapku dengan roti celaka itu, Hoja?” bentak Timur Lenk.
“Laporan keuangan saya catat pada roti ini, Paduka,” jawab Hoja dengan gaya pejabat.
“Kau berpura-pura gila lagi, Hoja?” Timur Lenk lebih marah lagi.
Hoja menjawab takzim, “Paduka, usiaku sudah cukup lanjut. Aku tidak akan kuat makan kertas-kertas laporan itu. Jadi semuanya aku pindahkan pada roti hangat ini.”

keledai membaca

Timur Lenk menghadiahi Hoja seekor keledai. Hoja menerimanya dengan senang hati. Tetapi Timur Lenk berkata; "ajari keledai itu membaca. Dalam dua minggu, datanglah kembali ke mari, dan kita lihat hasilnya."

Hoja berlalu, dan dua minggu kemudian ia kembali ke istana. Tanpa banyak bicara, Timur Lenk menunjuk ke sebuah buku besar. Hoja menggiring keledainya ke buku itu, dan membuka sampulnya.


Si keledai menatap buku itu, dan tak lama mulai membalik halamannya dengan lidahnya. Terus menerus, dibaliknya setiap halaman sampai ke halaman akhir. Setelah itu si keledai menatap Hoja.

"Demikianlah," kata Hoja, "keledaiku sudah bisa membaca."

Timur Lenk mulai menginterogasi, "bagaimana caramu mengajari dia membaca?"

Hoja berkisah, "sesampainya di rumah, aku siapkan lembaran-lembaran besar mirip buku, dan aku sisipkan biji-biji gandum di dalamnya. Keledai itu harus belajar membalik-balik halaman untuk bisa makan biji-biji gandum itu, sampai ia terlatih betul untuk membalik-balik halaman buku dengan benar."

"Tapi," tukas Timur Lenk tidak puas, "bukankah ia tidak mengerti apa yang dibacanya?"

Hoja menjawab, "memang demikianlah cara keledai membaca: hanya membalik-balik halaman tanpa mengerti isinya. Kalau kita membuka-buka buku tanpa mengerti isinya, kita disebut setolol keledai, bukan?"

adil dan lalim

Tak lama setelah menduduki kawasan Anatolia, Timur Lenk mengundang para ulama di kawasan itu. Setiap ulama beroleh pertanyaan yang sama:

"Apakah aku adil ataukah lalim. Kalau menurutmu aku adil, maka dengan keadilanku engkau akan kugantung. Sedang kalau menurutmu aku lalim, maka dengan kelalimanku engkau akan kupenggal."

Beberapa ulama telah jatuh menjadi korban kejahatan Timur Lenk ini. Dan akhirnya, tibalah waktunya Hoja diundang. Ini adalah perjumpaan resmi Hoja yang pertama dengan Timur Lenk. Timur Lenk kembali bertanya dengan angkuh kepada Hoja:

"Apakah aku adil ataukah lalim. Kalau menurutmu aku adil, maka dengan keadilanku engkau akan kugantung. Sedang kalau menurutmu aku lalim, maka dengan kelalimanku engkau akan kupenggal."

Dan dengan menenangkan diri, Hoja menjawab: "sesungguhnya, kamilah para penduduk di sini, yang merupakan orang-orang lalim dan abai. Sedangkan Anda adalah pedang keadilan yang diturunkan Allah yang Maha Adil kepada kami."

Setelah berpikir sejenak, Timur Lenk mengakui kecerdikan jawaban itu. Maka untuk sementara para ulama terbebas dari kejahatan Timur Lenk lebih lanjut.

itik berkaki satu

Sekali lagi Hoja diundang Timur Lenk. Hoja ingin membawa buah tangan berupa itik panggang. Sayang sekali, satu kaki dari itik telah dimakan Hoja pagi itu. Setelah berpikir-pikir, akhirnya Hoja membawa juga itik panggang berkaki satu itu menghadap Timur Lenk.

Seperti yang kita harapkan, Timur Lenk bertanya pada Hoja, "mengapa itik panggang ini hanya berkaki satu, Mullah Hoja?"

"Memang di negeri ini itik-itik hanya memiliki satu kaki. Kalau Anda tidak percaya, cobalah lihat di kolam."

Mereka berdua berjalan ke kolam. Di sana, banyak itik berendam sambil mengangkat sebuah kakinya, sehingga nampak hanya berkaki satu.

"Lihatlah," kata Hoja puas, "di sini itik hanya berkaki satu."

Tentu Timur Lenk tidak mau ditipu. Maka ia pun berteriak keras. Semua itik kaget, menurunkan kaki yang dilipat, dan beterbangan.

Tapi Hoja tidak kehilangan akal. "Subhanallah," katanya, "bahkan itik pun takut pada keinginan Anda. Barangkali kalau Anda meneriaki saya, saya akan ketakutan dan secara reflek menggandakan kaki jadi empat dan kemudian terbang juga."

gelar dan harga

Timur Lenk mulai mempercayai Hoja, dan kadang mengajaknya berbincang soal kekuasaannya.

"Hoja," kata Lenk suatu hari, "setiap khalifah di kerajaan ini selalu memiliki gelar dengan nama Allah. Misalnya: Al-Muwaffiq Billah, Al-Mutawakkil 'Alallah, Al-Mu'tashim Billah, Al-Watsiq Billah, dan lain-lain. Menurutmu, apakah gelar yang pantas untukku?"

Pertanyaan ini cukup sulit, mengingat Timur Lenk adalah penguasa yang bengis. Tapi tak lama, Hoja menemukan jawabannya. "Saya kira, gelar yang paling pantas untuk Anda adalah Naudzu-Billah* saja."

Timur Lenk meneruskan perbincangan dengan Hoja soal kekuasaannya.

"Hoja! Menurutmu, di manakah tempatku di akhirat, menurut kepercayaanmu? Apakah aku ditempatkan bersama orang-orang yang mulia atau yang hina?"

Bukan Hoja kalau ia tak dapat menjawab pertanyaan 'semudah' ini.

"Raja penakluk seperti Anda," jawab Hoja, "insya Allah akan ditempatkan bersama raja-raja dan tokoh-tokoh yang telah menghiasi sejarah."

Timur Lenk benar-benar puas dan gembira. "Betulkah itu Hoja?"

"Tentu," kata Hoja dengan mantap. "Saya yakin Anda akan ditempatkan bersama Fir'aun dari Mesir, raja Namrudz dari Babilon, kaisar Nero dari Romawi, dan juga Jenghis Khan."

Entah mengapa, Timur Lenk masih juga gembira mendengar jawaban itu.

Timur Lenk masih meneruskan perbincangan.

"Lalu, kalau setiap benda yang ada di dunia ini ada harganya, berapakah hargaku?"

Kali ini Hoja menjawab sekenanya, tanpa banyak berpikir.

"Saya taksir sekitar 100 dinar saja."

Timur Lenk membentak Hoja, "Keterlaluan! Apa kau tahu bahwa ikat pinggangku saja harganya sudah sampai 100 dinar?"

"Tepat sekali," kata Hoja. "Memang yang saya nilai dari Anda hanya sebatas ikat pinggang itu saja."

* "Aku berlindung kepada Allah (darinya)"

muatan dua ekor keledai

Sultan Alaudin dan seorang mentrinya pergi berburu. Hoja dibawa serta. Di tengah perjalanan Raja dan Mentri merasa kelelahan dan kepanasan. Maka bawaan mereka dipindahkan ke pundak Hoja.
Baru beberapa jalan melangkah tampak Hoja kesusahan berjalan. Seraya tertawa raja berkata, "Hoja, kau terbungkuk-bungkuk seperti membawa muatan seekor keledai."
Hoja cepat menyela, "tidak, saya malah membawa muatan dua ekor keledai."

Anjing, Tongkat dan Sufi

Suatu hari seorang laki-laki berpakaian sufi ketika sedang berjalan seorang diri, berpapasan dan bersenggolan dengan seekor anjing. Dipukulinya anjing itu sangat keras dengan tongkatnya hingga anjing meraung-raung kesakitan, berlari ke arah Abu Said seorang yang sangat bijak. Sambil meregang sakit, anjing itu bersimpuh di kaki Abu Said untuk menuntut keadilan terhadap tindakan sufi yang telah menghajarnya secara kejam.

Sang arif bijaksana, Abu Said, memanggil mereka berdua. Kepada sang Sufi ia berkata; “Wahai orang yang lancang! Bagaimana mungkin setega ini kau menghajar seekor binatang bodoh dengan cara seperti ini? Lihat apa yang telah kau lakukan!”

Sang Sufi menjawab, “ini sama sekali bukan salahku, tetapi salah anjing itu. Aku tidak memukulinya begitu saja tanpa sebab, ia telah mengotori jubahku.”

Tetapi anjing itu tetap saja mengeluh dan menuntut keadilan.

Lalu orang bijak itu berkata pada Anjing; “Dari pada menunggu Pembalasan Akhir, lebih baik izinkan aku memberi pembalasan atas kesakitan yang kau derita.”

Anjing berkata; “Tuan yang bijaksana dan agung! Ketika aku melihat laki-laki ini berpakaian seorang Sufi, aku langsung menyimpulkan bahwa dia bukanlah seorang yang berbahaya. Jika saja aku melihatnya berpakaian seperti orang biasa, aku pasti menghindarinya. Kesalahanku yang sebenarnya adalah menganggap bahwa penampilan orang ini mengisyaratkan rasa aman. Jika anda ingin memberinya hukuman, maka lepaskanlah jubah Orang Pilihan itu, lepaskan ia dari jubah Para Pencari Kebenaran...”

Anjing itu sendiri berada dalam barisan kebenaran. Tidaklah selalu benar untuk percaya bahwa seorang manusia pasti lebih baik darinya.

***

Kisah ini dari karya ‘Athtshar dalam Kitab Tuhan (Illahi Nama), sering diulang-ulang oleh para Darwis “Lorong Sesat”, dan disampaikan kepada Hamdun Tukang Pewarna Pakaian, di abad ke-9.

JALAN TEMPAT PARA PENJUAL MINYAK WANGI

Seorang pemulung, yang melangkahkan kaki di jalanan penjual minyak wangi, tersungkur seolah-olah mati. Orang orang mencoba untuk membangunkannya dengan bau-bauan yang wangi, tetapi keadaan dia justru semakin memburuk.

Akhirnya seorang bekas pemulung datang, dan menyadari kondisinya. Dia meletakkan sesuatu yang berbau kotor di bawah hidung lelaki itu dan tak lama kemudian dia bangun, sembari berteriak, “Inilah minyak wangi!”

Kau harus menyiapkan diri terhadap perubahan di mana tak ada sesuatu pun yang akrab dengan diri anda. Setelah mati, jati dirimu harus memberikan reaksi terhadap rangsangan di mana kamu telah diberi peluang untuk mencicipinya di sini.

Jika kau masih saja terikat denga sedikit hal yang kau akrabi, ini hanya akan membuatmu sengsara, seperti dilakukan minyak wangi terhadap pemulung yang tersungkur pada jalan pembuat minyak wangi itu.

***

Parabel ini mejelaskan sendiri. Al-Ghazali menggunakannya pada abad ke-11  Alchemy of Happiness (Kimia Kebahagiaan) untuk menggaris bawahi ajaran sufi, bahwa hanya sebagian hal saja yang keberadaannya kita akrabi memiliki persamaan dengan ‘dimensi lain’.

Waktu, Tempat, dan Orang

Pada zaman dahulu, ada seorang raja yang memanggil seorang Darwis (orang bijak, sufi) dan berkata kepadanya "Jalan para darwis, melalui silih bergantinya para guru sejak zaman lampau hingga kini, telah senantiasa memancarkan cahaya yang menjadi pendorong nilai-nilai yang membuat martabatku tampak tak lebih dari suatu bayangan pudar."

Darwis itu menjawab, "Demikianlah adanya."

"Sekarang," kata raja itu, "karena aku sangat berhasrat untuk mengetahui fakta-fakta di masa lalu, dan ingin sekali mendapatkan kebenaran yang bisa kau tunjukkan, dalam kebijaksaanmu yang ulung itu, maka ajarilah aku!"

"Suatu perintahkah itu atau permintaan?" tanya si darwis.

"Terserah padamu," kata raja itu, "kalau dianggap suatu perintah, aku siap belajar. Kalau dianggap permintaan, aku siap belajar."

Dan, ia menunggu jawaban darwis itu.

Berpuluh-puluh menit berlalu, dan akhirnya darwis itu menengadahkan kepalanya yang sejak tadi tunduk merenung. Katanya, "Raja harus menantikan 'saat pewahyuan'."

Jawaban itu mengherankan Raja, sebab, bagaimanapun juga, manakala ia ingin mengetahui sesuatu ia merasa memiliki hak untuk diberitahu, atau ditunjukkan, sesuatu atau lainnya.

Darwis itu pun meninggalkan istana raja.

Semenjak itu, hari demi hari, si darwis terus menyertai sang raja. Siang dan malam urusan negara terjadi, kerajaan itu melewati masa suka dan duka, para penasihat raja memberikan saran mereka, dan roda kehidupan terus saja berputar.

"Darwis itu datang ke istanaku setiap hari," pikir sang raja, setiap kali matanya menangkap sosok seorang yang memakai jubah tambal sulam, "dan tetap saja ia tak pernah menyinggung percakapan kami tentang belajar itu. Benar, ia terlibat dalam banyak peristiwa di istana ini, ia bicara dan tertawa, ia makan dan tidur. Adakah ia sedang menantikan sebuah pertanda atau semacamnya?" Tetapi, sekeras apa pun berusaha, raja itu tetap tak dapat menduga makna dari misteri itu.

Ketika pusaran ombak tak kasat mata pada akhirnya mencapai pantai kemungkinan, muncullah desas-desus di istana raja. Ada seorang yang mengatakan, "Daud dari Sahil adalah penyanyi terbaik di dunia."

Biasanya percakapan semacam itu tak digubris oleh raja, tetapi sekali ini ia merasakan keinginan yang kuat untuk mendengarkan penyanyi itu.

"Bawa penyanyi itu ke istanaku," kata sang raja. Pengurus acara kerajaan pun diutus ke rumah penyanyi itu, tetapi Daud, raja di antara para penyanyi, menjawab, "Rajamu itu hanya tahu sedikit tentang syarat-syarat menyanyi. Kalau ia sekadar ingin melihat wajahku, aku akan datang. Tetapi kalau ia ingin mendengarku menyanyi, ia harus menunggu, sama seperti orang lain, hingga aku berada dalam suasana hati yang tepat untuk menyanyi." Mengetahui kapan harus tampil dan kapan tidak tampil itulah yang membuatku menjadi penyanyi terbaik, sama seperti pengetahuan ini akan membuat orang bodoh mana pun yang mengetahuinya, menjadi penyanyi hebat."

Ketika perkataan itu disampaikan kepada raja, ia merasa marah sekaligus semakin ingin, dan berkata, "Tak adakah seorang pun di istana ini yang mau memaksa lelaki itu menyanyi untukku?" Sebab, bila ia menyanyi hanya ketika suasana hatinya tepat, aku pun demikian. Aku mau mendengarkan nyanyiannya ketika aku masih ingin mendengarnya."

Kemudian, Darwis itu tampil ke depan dan berkata:

"Burung Merak zaman ini, ikutlah bersamaku menemui penyanyi itu."

Para pejabat istana saling bertatapan. Beberapa dari mereka berpikir bahwa darwis itu memainkan suatu permainan berbahaya, dan sekarang ia sedang berjudi dalam hal membuat penyanyi itu mau tampil. Kalau ia berhasil, tentu sang raja akan memberinya hadiah. Tetapi, mereka ngeri membayangkan bila kemungkinan sebaliknya yang terjadi.

Tanpa menjawab, sang raja bangkit dan menyuruh dibawakan sepotong pakaian kumal. Raja itu mengenakannya, lalu bergegas mengkuti si darwis.

Raja yang menyamar dan pemandunya itu pun sampai di rumah penyanyi itu. Ketika pintu diketuk, terdengar Daud berseru, "Hari ini aku tak ingin menyanyi. Jadi, pergilah dan jangan ganggu kedamaianku."

Mendengar itu, si darwis duduk bersila di tanah, dan mulai menyanyi. Ia mendendangkan lagu Daud yang paling disukai orang, dan ia menyanyikan keseluruhan lagu itu, dari awal hingga akhir.

Sang raja, yang tidak biasa menilai nyanyian, sangat terpesona oleh lagu itu, dan perhatiannya teralihkan pada kemerduan suara darwis itu. Ia tidak tahu bahwa darwis itu sengaja menyanyikan lagu tersebut secara keliru agar muncul keinginan penyanyi itu untuk membetulkannya.

"Lagi, lagi, nyanyikan lagu itu lagi," pinta raja itu, "sebab belum pernah aku mendengar nyanyian semerdu itu."

Namun, saat itu Daud mulai menyanyi. Sejak nada pertama darwis itu dan sang raja dibuat terkesima, perhatian mereka terpaku kepada rangkaian nada yang mengalun tanpa cela dari pita suara Si Burung Bulbul dari Sahil.

Ketika Daud selesai menyanyi, sang raja memberikan hadiah berlimpah kepadanya. Kepada darwis itu, sang raja berkata, "Manusia bijaksana! Aku mengagumi caramu memancing Burung Bulbul itu menyanyi, dan aku akan dengan senang hati mengangkatmu menjadi penasihat di istanaku."

Tetapi, darwis itu menjawab, "Yang Mulia, engkau bisa mendengarkan lagu yang engkau kehendaki hanya jika ada seorang penyanyi, jika engkau ada saat ini, dan jika ada seorang yang membentuk saluran agar lagu itu bisa dinyanyikan. Sebagaimana halnya dengan penyanyi terbaik dan raja, demikian pula dengan darwis dan para pengikutnya. Waktu, tempat, orang, dan kecakapan."
__________________________________


Benturan antara para Sufi dan pelajar biasanya tampak jelas dalam teori bahwa pemikiran-pemikiran Sufi hanya bisa dipelajari dalam kesesuaian dengan prinsip-prinsip tertentu; termasuk di antaranya waktu, tempat, dan orang.

Para sarjana menuntut pembuktian terhadap klaim-klaim Sufi dalam istilah-istilah mereka sendiri. Banyak kisah Sufi yang menggambarkan, seperti halnya kisah ini, bahwa para Sufi hanya menuntut kesempatan yang sama untuk memenuhi berbagai syarat yang diminta oleh para akademisi ataupun ilmuwan.

Kisah ini berasal dari ajaran Sayed Imam Ali Shah, yahg wafat pada tahun 1860 dan dimakamkan di Gurdaspur, India.

Guru dari tarekat Naqshbandi yang terkenal ini sering kali terganggu oleh para calon pengikut dari segala bangsa dan kepercayaan karena adanya fenomena 'psi' yang ganjil yang terus-menerus dikatakan tentang dirinya. Ada orang mengatakan bahwa ia datang kepada mereka lewat mimpi, menyampaikan kabar penting, bahwa ia terlihat di beberapa tempat pada saat bersamaan; bahwa apa pun yang dikatakannya ternyata mempunyai kegunaan tertentu bagi kepentingan teman bicaranya. Tetapi ketika mereka bertatap muka dengannya, orang-orang itu tak mendapati sesuatu yang sifatnya supranatural atau ganjil pada dirinya.

Harta Karun dari Timur Tengah - Kisah Bijak Para SufiISBN 979-21-0458-5PENERBIT KANISIUS (Anggota IKAPI)

jalan gunung

Seorang lelaki pintar, pemikir dengan otak yang terlatih. Suatu hari dalam sebuah perjalanan, mampir ke sebuah desa, ia ingin membandingkan sebagai percobaan dan penelitian, adanya sudut-sudut pandang yang berbeda di sana.


Dia pergi ke persinggahan kafilah dan menanyakan pada penduduk orang yang paling jujur dan pembohong terbesar di desa itu. Orang-orang di sana sepakat bahwa lelaki bernama Kadzdzab adalah pembohong terbesar; dan bahwa bahwa Rastgu adalah manusia paling jujur. Kemudian dia menemui mereka, dan melemparkan satu pertanyaan sedehana: “Jalan mana yang terbaik ke desa selanjutnya?”

Ratsgu si jujur berkata, “jalan gunung.”
Kadzdzab si pembohong juga berkata, “jalan gunung.”
Sehingga dia menanyai orang-orang lain, warga biasa.
Sebagian berkata, “Sungai”; yang lain, “melintasi padang.”
Dan sebagian lagi berkata, “jalan gunung.”
 
Dia mengambil jalan gunung, tetapi selain memikirkan tujuan perjalanannya, masalah orang-orang yang jujur dan pembohong-pembohong itu masih mengganggunya.

Ketika dia sampai di desa berikutnya, dan memikirkan kembali cerita ini di rumah persinggahan, dia akhirnya berucap, “aku terbukti melakukan kesalahan nalar yang mendasar, yang menanyai orang-orang yang salah tentang si jujur dan si pembohong. Aku sampai ke desa ini dengan sangat mudah, mulai jalan gunung.”

Seorang lelaki bijak yang ada di sana berkata, “orang-orang yang memakai nalar, haruslah diakui, cenderung menjadi buta, dan harus meminta pertolongan orang lain. Tetapi masalahnya di sini berbeda. Kenyataannya adalah bahwa: sungai adalah jalan termudah, sehingga si pembohong itu menyarankan jalan gunung. Tetapi lelaki yang jujur itu tidak saja jujur. Dia melihat kau menunggangi keledai yang mungkin membuat perjalanan lebih mudah. Si pembohong kebetulan saja tidak melihat kenyataan bahwa kau tidak memilki perahu: jika saja dia melihat, dia mungkin akan menyarankanmu melalui sungai.”

                                            ***
“Orang mendapati kemampuan dan rahmat para sufi tidak mungkin dipercayai. Tetapi orang-orang macam itu adalah mereka yang tidak memiliki pengetahuan tentang kepercayaan sejati. Mereka percaya semua jenis hal yang tidak senyatanya, karena kebiasaan atau karena mereka diperintah oleh pihak wewenang.

“Kepercayaan sejati adalah sesuatu yang lain. Orang-orang yang memiliki kepercayaan sejati adalah mereka yang telah mengalami satu hal. Ketika mereka telah mengalaminya... kemampuan-kemapuan dan rahmat-rahmat yang dilaporkan tidaklah berguna bagi mereka.” Kata-kata ini, dikatakan oleh Sayed Syah (Qadiri, yang meninggal tahun 1854) kadang-kadang mendahului “jalan gunung”.

kisah tukang cukur

Seorang konsumen datang ke tempat tukang cukur untuk memotong rambut dan merapikan brewoknya. Si tukang cukur mulai memotong rambut konsumennya dan mulailah terlibat pembicaraan yang mulai menghangat.

Mereka membicarakan banyak hal dan berbagai variasi topik pembicaraan, dan sesaat topik pembicaraan beralih tentang TUHAN.

Si tukang cukur bilang,”Saya tidak percaya kalau TUHAN itu ada”.

“Kenapa kamu berkata begitu ?” tanya si konsumen.

“Begini, coba kamu perhatikan di depan sana, di jalanan…. untuk menyadari bahwa TUHAN itu tidak ada. Katakan kepadaku, jika TUHAN itu ada. Adakah yang sakit? Adakah anak-anak terlantar? Adakah yang hidupnya susah? Jika TUHAN ada, tidak akan ada sakit ataupun kesusahan. Saya tidak dapat membayangkan TUHAN Yang Maha Penyayang akan membiarkan ini semua terjadi”.

Si konsumen diam untuk berpikir sejenak, tapi tidak merespon apa yang dikatakan si tukang cukur tadi, karena dia tidak ingin terlibat adu pendapat.

Si tukang cukur menyelesaikan pekerjaannya dan si konsumen pergi meninggalkan tempat si tukang cukur.

Beberapa saat setelah dia meninggalkan ruangan itu dia melihat ada orang di jalan dengan rambut yang panjang berombak kasar, kotor dan brewok, tidak pernah dicukur. Orang itu terlihat kotor dan tidak terawat.

Si konsumen balik ke tempat tukang cukur tadi dan berkata :
“Kamu tahu, sebenarnya di dunia ini TIDAK ADA TUKANG CUKUR..!”

Si tukang cukur tidak terima, dia bertanya : “Kamu kok bisa bilang begitu?”.
“Saya tukang cukur dan saya ada di sini. Dan barusan saya mencukurmu!”

“Tidak!” elak si konsumen.
“Tukang cukur itu TIDAK ADA! Sebab jika tukang cukur itu ada, tidak akan ada orang dengan rambut panjang yang kotor dan brewokan seperti orang yang di luar sana”, si konsumen menambahkan.

“Ah tidak, tapi tukang cukur itu tetap ada!”, sanggah si tukang cukur.
“Apa yang kamu lihat itu adalah SALAH MEREKA SENDIRI, mengapa mereka tidak datang kepada saya untuk mencukur dan merapikan rambutnya?”, jawab si tukang cukur membela diri.

“COCOK, SAYA SETUJU..!” kata si konsumen.
“Itulah point utamanya!.. Sama dengan TUHAN.

“Maksud kamu bagaimana?”, tanya si tukang cukur tidak mengerti.

Sebenarnya TUHAN ITU ADA ! Tapi apa yang terjadi sekarang ini.?
Mengapa orang-orang TIDAK MAU DATANG kepada-NYA, dan TIDAK MAU mencari-NYA..?
Oleh karena itu banyak yang sakit dan tertimpa kesusahan di dunia ini.”

Si tukang cukur terbengong!!!! Dalam hati dia berkata : “Benar juga apa kata dia..mengapa aku tidak mau datang kepada TUHANKU, untuk beribadah dan berdoa, memohon agar dihindarkan dari segala kesusahan dalam hidup ini..?”

wajah di jendela

 Untuk tujuan pembangunan sebuah masjid, Hoja berkunjung ke rumah seorang pejabat untuk mengumpulkan dana. Ketika Hoja melangkahkan kakinya memasuki halaman rumah, ia sempat melihat wajah si pejabat di jendela lantai atas rumah, namun kemudian si pejabat terlihat buru-buru menyelinap ke dalam.

Hoja mengetuk pintu rumah si pejabat, dan dibukakan oleh seorang pelayan.
"Tolong sampaikan kepada tuanmu," kata Nasruddin kepada si pelayan.
"Nasruddin Hoja datang untuk meminta sumbangan."
Si pelayan masuk, tapi tak lama kemudian keluar lagi.
"Maaf, tuan saya baru saja keluar," kata si pelayan. "Sayang sekali beliau tak bisa menerima Anda hari ini."
"Baiklah kalau begitu," kata Hoja. "Tapi katakan pada tuanmu, agar lain kali bila keluar rumah jangan lagi wajahnya tertinggal di jendela atas. Jangan-jangan nanti dicuri orang."

seorang anak dan ayahnya yang kaya

Suatu ketika seseorang yang sangat kaya mengajak anaknya mengunjungi sebuah kampung, dengan tujuan utama memperlihatkan kepada anaknya betapa orang-orang bisa sangat miskin. Mereka menginap beberapa hari di sebuah daerah pertanian yang sangat miskin. Pada perjalanan pulang, sang Ayah bertanya kepada anaknya; 

"Bagaimana perjalanan kali ini?"

"Wah, sangat luar biasa Ayah" 

"Kau lihatkan betapa manusia bisa sangat miskin", kata ayahnya. 

"Oh iya" kata anaknya. 

"Jadi, pelajaran apa yang dapat kamu ambil?" tanya ayahnya. 

Kemudian si anak menjawab. "saya saksikan bahwa kita hanya punya satu anjing, mereka punya empat. Kita punya kolam renang yang luasnya sampai ketengah taman kita dan mereka memiliki telaga yang tidak ada batasnya. Kita mengimpor lentera-lentera di taman kita dan mereka memiliki bintang-bintang pada malam hari. Kita memiliki patio sampai ke! halaman depan, dan mereka memiliki cakrawala secara utuh. Kita memiliki sebidang tanah untuk tempat tinggal dan mereka memiliki ladang yang melampaui pandangan kita. Kita punya pelayan-pelayan untuk melayani kita, tapi mereka melayani sesamanya. Kita membeli untuk makanan kita, mereka menumbuhkannya sendiri. Kita mempunyai tembok untuk melindungi kekayaan kita dan mereka memiliki sahabat-sahabat untuk saling melindungi." 

Mendengar hal ini sang Ayah tak dapat berbicara. Kemudian sang anak menambahkan; 
"Terimakasih Ayah, telah menunjukan kepada saya betapa miskinnya kita."